Ekologi Laut Tropis Sebuah Kajian Awal Mengenal Karakteristik Laut Indonesia

Ekologi Laut Tropis Sebuah Kajian Awal Mengenal Karakteristik Laut Indonesia

Indonesia merupakan negara megabiodiversity terbesar kedua di dunia setelah Brazil, dan terbesar di dunia dalam hal keragaman hayati laut. Hal ini dipastikan setelah Indonesia terbukti memiliki seluruh ekosistem bahari tropis yang terlengkap di dunia, mulai dari hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Karena itu, diperlukan langkah startegis dalam mengungkap potensi yang sangat besar. Strategi awal untuk membuka potensi besar di atas adalah dengan mulai mengenal dari mahluk hidup yang terkandung di dalamnya.
Dalam mempelajari mahluk hidup tentu kita akan berbicara dengan banyak kegiatan mahluk itu sendiri dalam lingkungannya baik interaksi internal maupun eksternal dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Beberapa kebutuhan mahluk hidup tersebut diantaranya: kebutuhan nutrisi, transportasi, metabolisme, gerak dan iritabilitas, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, adaptasi, regulasi. Hal tersebut meruapkan kebutuhan yang mutlak untuk dipenuhi, yang apabila tidak terpenuhi akan menimbulkan masalah yang besar.
Ekosistem laut tropis memiliki beberapa cirri yang berbeda dengan ekosistem laut di daerah lain seperti : sinar matahari terus menerus sepanjang tahun (hanya ada dua musim, hujan dan kemarau) hal ini merupakan kondisi optimal bagi produksi fitoplankton, memiliki predator tertinggi, jaring-jaring makanan dan struktur trofik komunitas pelagic, Secara umum terdiri dari algae, herbivora, penyaring, predator dan predator tertinggi, sertra memilki tingkat keragaman yang tinggi dengan jumlah sedikit apabila dibandingkan dengan tipe daerah seperti subtropis dan kutub.
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi yang merupakan siklus interaksi antara bumi, laut dan udara. Materi yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organic anorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi jugs melibatkan reaksireaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur.
Fungsi Daur Biogeokimia adalah sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga. Di sini hanya akan dibahas 3 macam siklus, yaitu siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus karbon.
Pertama, siklus nitrogen, gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/ petir. Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02- ), dan ion nitrat (N03- ). Beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen.
Kedua, siklus fosfor yang di alam fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus.
Ketiga, siklus karbon dan oksigen, yang di atmosfer terdapat kandungan CO2 sebanyak 0.03%. Sumber-sumber CO2 di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Karbondioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara. Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbondioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 .

Upaya perlindungan dan penyelamatan harus segera digulirkan, demi keseimbangan alam dapat tercapai. Usaha yang dilakukan beragam mulai dari perencanaan sebuah kawasan konservasi berikut peraturan yang menjaminnya. Sebuah kawasan konservasi tersebut dapat berupa Kawasan Konservasi Terpadu, yang terdiri dari Ekosistem Mangrove, Lamun, Terumbu Karang, dan Fitoplankton yang mendiami wilayah tropis.
Berikut tabel analisis perbandingan dari Ekosistem Mangrove, Lamun, Terumbu Karang, dan Fitoplankton, pada tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1. Data perbandingan Ekosistem Mangrove, Lamun, Terumbu Karang, dan Fitoplankton
Parameter Hutan Mangrove Padang Lamun Terumbu Karang
Fitoplankton

*Potensi Daya Serap Karbon 67,7 juta ton/tahun
(L 93.000 km2) 50,3 juta ton/tahun (30.000 km2) 65,7 juta ton/tahun (61.000 km2) 36,1 juta ton/tahun
(L 5,8juta km2)
Cara Penyerapan Melalui fotosintesis Melalui foteosintesis Melalui fotosintesis, kalsifikasi Melalui fotosintesis
*Produktifitas 22,90 ton/hektar/tahun Belum diketahui Belum diketahui 50mgC/m2/tahun
Faktor Pembatas Kecerahan:Temperatur :Substrat: Berhubungan Pemanfaatan oleh masyarakat Suhu Kecerahan Temperatur Salinitas Substrat Kecepatan Arus Suhu
Temperature Salinitas Suhu
Cahaya, Nutrisi, Pencemaran
Nilai Estetika Menunjang demi pariwisata Menunjang demi pariwisata Menunjang demi pariwisata Tidak ada
Kekurangan Tidak ada Tidak ada Rentan terhadap suhu panas yang bisa menyebabkan bleching Menyebabkan red tide/blooming
*Sumber: Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007
Dari hasil analisa perbandingan pada tabel 1. didapat bahwa ekosistem padang lamun memiliki nilai rosot karbon yang lebih besar dibandingkan dengan ketiga ekosistem lainnya. Hal ini dibuktikan dengan analisis dalam kisaran luas relatif kecil tetapi memiliki potensi daya serap karbon yang cukup besar. Adapun dilihat dari parameter kekurangan, terumbu karang dan fitoplankton masing-masing memiliki kekurangan yaitu terumbu karang sangat rentan dengan suhu tinggi yang mengakibatkan bleaching, sedangkan pada fitoplankton apabila pertumbuhannya berlebihan akan menyebabkan red tide.
Adapun konsep yang dapat direkomendasikan dalam rangka mencapai sinergisme pemanfaatan ekosistem laut tersebut antara lain sebagai berikut :
Perencanaan
Perencanaan dilakukan melalui pendekatan Pengelolaan Kawasan Konservasi Terpadu (Integrated Conservation Zone Management) yang mengintegrasikan berbagai perencanaan, sehingga terjadi sinergisme antara empat elemen ekosiste. Konsep perencanaan kawasan konservasi terpadu merupakan upaya bertahap dan terprogram yang disertai dengan upaya pengendalian dampak implementatif yang mungkin timbul. Perencanaan Kawasan Konservasi Terpadu dibagi ke dalam empat tahapan utama yaitu ;
(i) rencana strategis
Rencana strategis lebih difokuskan kepada strategi pengelolaan wilayah pesisir yang difokuskan dalam pemanfaatan ruang, seperti identifikasi pengguna ruang dan kebutuhannya, penyusunan rencana tata ruang pesisir, penetapan sempadan pantai dan penanaman mangrove. pengendalian reklamasi pantai, pengetatan baku mutu limbah dan manajemen persampahan, penataan permukiman kumuh, dan perbaikan sistem drainase, dan penegakan hukum secara konsisten.
(ii) rencana zonasi
Rencana zonasi dititikberatkan pada adanya kawasan penyangga di kawasan konservasi terpadu seperti zonasi Jalur Hijau, Jalur Interaksi, dan Jalur Kawasan Budidaya. Fungsi jalur hijau adalah menyangga fisik kawasan dari gangguan luar. Fungsi jalur interaksi adalah menyangga kawasan konservasi dan jalur hijau dari perubahan ekosistem yang drastis, dan mendukung peningkatan sosial ekonomi masyarakat dan kelestarian kawasan konservasi terpadu tersebut. Pengelolaan jalur interaksi dilakukan dengan pengembangan agroforestry, dimanfaatkan secara terbatas dan vegetasi sekunder atau areal yang ditinggalkan masyarakat dibangun menjadi hutan rakyat atau hutan kemasyarakatan yang dapat mendukung konservasi tumbuhan yang benilai ekonomis dan ekologis. Fungsi kawasan budidaya daerah penyangga adalah untuk mendukung peningkatan sosial ekonomi masyarakat, pengembangan wilayah dan wisata.
(iii) rencana pengelolaan
Rencana pengelolaan dilakukan melalui Pengelolaan Kawasan Konservasi Terpadu (Integrated Conservation Zone Management) meliputi proses perencanaan, pemanfaatan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasan, dan pemberdayaan masyarakat, penentuan kewenangan, kelembagaan, sampai dengan tindakan pencegahan demi kelestarian ekossitem laut.
(iv) rencana aksi
Rencana aksi dilakukan dengan memetakan kawasan-kawasan konservasi laut, mengadakan survei mengenai kondisi kawasan konservasi laut, melaksanakan pelatihan berkala teknik pemantauan KKT (Kawasan Konservasi Terpadu). Program pelatihan dapat dilakukan oleh lembaga internasional dan lembaga lain yang memiliki kapasitas teknik yang sesuai, menyusun prosedur tetap atau standard operating procedure (SOP) agar dapat memenuhi unsur hukum, menyusun dan menyosialisasikan SOP tersebut kepada masyarakat, membuat protokol-protokol praktek pengelolaan terbaik (best management practices) untuk KKT, serta melaksanakan lokakarya dan penyusunan database status suatu kawasan konservasi laut.
Pengawasan dan Pengendalian
Secara umum upaya pengawasan dan pengendalian Kawasan Konservasi Terpadu (Integrated Conservation Zone) dilakukan dalam rangka :
1) Mengetahui adanya penyimpangan implementasi pelaksanaan rencana strategis, rencana zonasi, rencana pengelolaan, serta implikasi penyimpangan tersebut terhadap perubahan kualitas ekosistem.
2) Mendorong agar pola pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya di kawasan konservasi berjalan sinergis sesuai dengan rencana pengelolaannya.
3) Memberikan sanksi pelanggaran baik berupa sanksi administratif, sanksi perdata, maupun sanksi pidana berdasarkan hukum yang berlaku.
Daftar Pustaka
Boyd, P. W. 2000. A mesosscle phytoplankton bloom in the plar southhern ocean stimulated by iron Fertilization. Nature, 407:695-702.

Dahuri, R. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta.

Dittmar, T. et al. 2006. Mangroves, a major source of dissolved organic carbon to the oceans. Global Biogeochem. Cycles.20(1).

http://geo.ugm.ac.id/archives/100

Tentang Penulis

Abdul Malik Firdaus. Lahir di Garut-Jawa Barat, 6 Agustus. Aktif menulis sejak duduk di bangku SD, mulai dari menulis puisi hingga cerpen. Sejak SMA kegiatan menulis semakin focus ditekuni dengan ikut bergabungnya di FLP Bandung (Forum Lingkar Pena). Selepas SMA, diterima di Program Studi Ilmu Kelautan Unpad. Saat ini sedang tertarik dan mendalami peran ekosistem padang lamun dalam mengurangi pemanasan global.


Mengenal Rantai Makanan Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Pangumbahan, Sukabumi – Jawa Barat

Mengenal Rantai Makanan Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Pangumbahan, Sukabumi – Jawa Barat

I. Ekosistem Laut Pesisir Pantai Ujung Genteng, Jawa Barat

Ekosistem pesisir dan laut merupakan ekosistem alamiah yang produktif, unik dan mempunyai nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Selain menghasilkan bahan dasar untuk pemenuhan kebutuhan pangan, keperluan rumah tangga dan industri yang dalam konteks ekonomi bernilai komersial tinggi, ekosistem pesisir dan laut juga memiliki fungsi-fungsi ekologis penting, antara lain sebagai penyedia nutrien, sebagai tempat pemijahan, tempat pengasuhan dan tumbuh besar, serta tempat mencari makanan bagi beragam biota laut. Di samping itu, ekosistem pesisir dan laut berperan pula sebagai pelindung pantai atau penahan abrasi bagi wilayah daratan yang berada di belakang ekosistem ini (Bengen, 2002).
Pembahasan makalah ini dititikberatkan pada rantai makanan di ekosistem pesisir Pantai Ujung Genteng Jawa Barat. Pantai ini merupakan Pantai berlumpur yang memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup penyu di Indonesia. Dunia mengenal tujuh jenis penyu, dan enam diantaranya hidup di Indonesia. Enam penyu tersebut adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata/Hawksbill Turtle), penyu pipih (Natator depressa), penyu abu-abu (Olive ridley turtle), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu merah atau penyu tempayan (Caretta caretta). Satu penyu lainnya, yang hanya hidup di antara Laut Meksiko dan Lusiana, Amerika Serikat, adalah Leupidocalis caspri. Dari enam penyu yang ada di Indonesia salah satunya penyu hijau (Chelonia mydas) yang bertelur di Pantai Ujung Genteng.
Melihat sifat fisik dari wilayah Pantai Selatan Jawa tentunya memiliki kontur yang curam. Kondisi topografi berupa kombinasi antara dataran rendah (pantai), bukit dan pegunungan. Setelah penulis melakukan analisis dan pernah berkunjung ke Pantai Pangumbangan maka dapat dikatakan Pantai Pangumbahan termasuk jenis Pantai berpasir halus. Hal ini didasarkan pada pola hidup penyu yang hanya hidup dan mendarat di pantai yang berpasir halus kaya akan nutrient untuk tempat menetaskan telurnya. Kemudian kondisi pantai yang berhubungan langsung dengan samudera, meskipun bila diperbandingkan dengan beberapa pantai lain yang ada di Pantai Selatan seperti Pantai Sayang Heulang di Garut yang termasuk pada pantai berbatu.
II. Ekosistem Pantai Berpasir Halus
Pantai berpasir dicirikan oleh ukuran butiran sedimen halus dan memiliki tingkat bahan organik yang tinggi, pantai ini pula banyak dipengaruhi oleh pasang surut yang mengaduk sedimen secara periodik. Interaksi organisme dengan sedimen dan pengaruh evaporasi perairan sangat tinggi di lingkungannya. Faktor fisik yang berperan penting mengatur kehidupan di pantai berpasir adalah gerakan ombak. Gerakan ombak ini mempengaruhi ukuran partikel dan pergerakan substrat di pantai. Jika gerakan ombak kecil, ukuran partikelnya kecil, tetapi jika gerakan ombak besar atau kuat, ukuran partikelnya akan menjadi kasar dan membentuk deposit kerikil.
Pengaruh ukuran partikel terhadap organisme yang hidup pada pantai tersebut adalah pada penyebaran dan kelimpahannya. Butiran pasir yang halus mempunyai retensi air yang mampu menampung lebih banyak air di atas dan memudahkan organisme untuk menggali. Gerakan ombak dapat pula mengakibatkan partikel-partikel pasir atau kerikil menjadi tidak stabil sehingga partikel-partikel substrat akan terangkut, teraduk, dan terdeposit kembali. Karena kondisi di lapisan permukaan sedimen yang terus menerus bergerak, maka hanya sedikit organisme yang mempunyai kemampuan untuk menetap secara permanen sehingga inilah yang menyebabkan pantai seperti terlihat tandus.
Faktor lingkungan seperti suhu, kekeringan, serta gerakan ombak beraksi secara beragam pada tiap pasang surut. Kekeringan bukan merupakan masalah selama pasir pantai cukup halus sehingga dapat menahan air melalui kegiatan kapiler selama pasang turun. Pasir juga merupakan penyangga yang baik bagi perubahan suhu dan salinitas yang besar.
III. Rantai Makanan Pantai Berpasir Halus
Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan-herbivora-carnivora). Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%–90% energi potensial hilang sebagai panas, karena itu langkah-langkah dalam rantai makanan terbatas 4-5 langkah saja. Dengan perkataan lain, semakin pendek rantai makanan semakin besar pula energi yang tersedia (http://id.wikipedia.org/wiki/rantai_makanan).
Ada dua tipe dasar rantai makanan:
1. Rantai makanan rerumputan (grazing food chain). Misalnya: tumbuhan-herbivora-carnivora.
2. Rantai makanan sisa (detritus food chain). Bahan mati mikroorganisme (detrivora = organisme pemakan sisa) predator.
Organisme yang berada di pantai berpasir mempunyai kemampuan beradaptasi dengan dua cara yaitu dengan menggali substrat sampai kedalaman yang tidak lagi di pengaruhi gelombang yang lewat, kemampuan menggali substrat dengan cepat ketika gelombang lewat memindahkan organisme dari substrat. Adaptasi lain, kebanyakan molusca yang mengubur dirinya cenderung mempunyai cangkang yang licin dan berat. Adaptasi terakhir adalah mencegah terjadinya penyumbatan permukaan alat pernapasan yaitu dengan penyaring (sekat) yang dapat mencegah pasir masuk kedalamnya tetapi air dapat masuk.
IV. Komunitas Penyu Hijau Penghuni Pantai Berpasir Pantai Ujung Genteng

Adanya spesies penyu hijau yang mendiami daerah ini karena masih seimbangnya rantai makanan. Mulai dari adanya padang lamun sebagai penyedia makanan kemudian detritus, sampai penyu hijau sebagai konsumen utama. Dalam bagian ini, diuraikan tiga bagian terbesar dalam rantai makanan pantai berpasir yaitu: detritus, padang lamun, dan penyu hijau. Meskipun letak padang lamun di Pantai Pangumbahan tidak berdekatan dikarenakan kontur pantai yang curam tetapi suplai makanan untuk penyu hijau terpenuhi. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya penyu hijau yang bertelur di daerah ini.

Daftar Pustaka

Azkab, M. H. 1994. Komunitas Padang Lamun pada Tiga Pulau dari Kepulauan Seribu dengan Kegiatan Manusia yang Berbeda. Makalah Penunjang pada Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Jakarta, 7-9 Februari 1994. Puslitbang Oseanologi LIPI, Jakarta. hal. 93-98.
Barber, B.J.1985. Effects of elevated temperature on seasonal in situ leaf productivity of Thalassia testudinum banks ex konig and Syringodium fliforme kutzing. Aquatic Botany 22:61-69.
Bengen,D.G. 2001. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Instititut Pertanian Bogor.
Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut: Aset pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 412 halaman.


Pemuda Muslim Sebagai Pembawa Atmosphere Ilahi

Pemuda Muslim Sebagai Pembawa Atmosphere Ilahi
Oleh:
Abdul Malik Firdaus
Sekretaris Umum Keluarga Alumni Centaurian Moeslem Atmosphere

Syu’banulyaum Rijalul Ghad, pemuda hari ini mempimpin di masa depan. Potongan hadist tersebut mengisyaratkan banyak pesan yang begitu besar bagi pemuda di masa kini yang harus menjadi konsep bagi seorang pemuda muslim. Salah satu pesan yang tersirat adalah pentingnya untuk menyiapkan pemuda guna arah tujuan hidup masa depan. Darul Arqam salah satu tempat penggemblengan pemuda jaman Rasullulah saw perlu kita teladani kembali. Permasalahan pemuda bukan masalah yang mudah, tetapi sebuah masalah yang komplek yang perlu kajian secara menyeluruh.
Dari tangan-tangan mereka lah terbitnya fajar Islam. Bagaimna tidak pada waktu itu usia Rasullulah saw sendiri pun baru menginjak empat puluh tahun ketika beliau diangkat menjadi rasul. Sedangkan Abu Bakar pada waktu itu berusia tiga tahun lebih muda dari usia Nabi SAW. Bahkan Umar bin Khatab masih berusia 27 tahun, dan Ali Ra adalah oarng termuda dari keempat khalifah tersebut. Selain itu para pemuda yang digembleng Rasullulah saw juga para tokoh mujahid yang tangguh, seperti Abdullah bin Mas’ud, Abdul Rahman bin Auf, Al Arqam bin Al Arqam, Sa’id bin Zaid. Muhs’ab bin Umair, Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir dan puluhan bahkan ratusan pemuda lainnya.
Melihat pemuda muslim sekarang seaakan tersesat di dunia yang tidak bersahabat. Penuh pertentangan hingga sulit tetapkan arah tujuan. Hanya pemuda yang memiliki keimanan, keikhlasan, Tekad, dan Usaha yang kuat yang mampu hadang segala problematika di era ini. Landasan iman adalah jiwa yang suci. Landasan keikhlasan adalah hati yang jernih. Landasan tekad adalah semangat yang kuat membara. Landasan usaha ialah kemauan yang keras dan landasan pengorbanan adalah aqidah yang kokoh.
Berbeda ketika Islam berjaya di daerah seperti Syam, daratan Irak yang subur, Andalusia, mesir, Al Jazair, daratan Afrika, India, daratan Cina, dan seluruh jagat raya ini. Semua daerah tersebut mengandung kabar berita tentang nenek moyang kita yang gagah berani dan mulia. Daerah-daerah itu sarat akan nilai-nilai Iman dan Islam. Mereka telah menyerap ilmu pengetahuan di berbagai mesjid, entah itu Mekah, Madinah, Al Aqsha, Kordoba, Al Azhar, dan Umawi. Mereka menyimpan segudang kebanggan dan kemuliaan , ilmu, kebudayaan, tatanan nilai dan prinsip. Mereka telah membina mental spiritual umat. Mereka telah menyebarluaskan ilmu pengetahuan, melenyapkan simbol-simbol paganisme (kemusyrikan) serta menyemaikan benih-benih tauhid, keadilan, ukhuwah, dan persamaan.
Kejayaan Islam di tangan para pemuda muslim membuka efek yang begitu besar. Sehingga kemerdekaan bukan hanya kiasan ataupun isapan jempol tetapi hadir menjadi pemecah rantai perbudakan, berfikir terbuka guna tauhid yang mulia di saat akal pikiran terkungkung oleh tirai kemusyrikan. Banyak prestasi yang pernah diraih pemuda muslim meski sejarah barat tak mencatatnya. Tetapi semua itu hidup bukan hanya sebagai catatan saja melainkan menjadi tangga menuju Islam yang jaya. Kembali pada permasalahan pemuda muslim masa kini yang seakan kehilangan ‘pegangan’ menjadi PR besar bagi semua elemen masyarakat mulai dari lingkungan terkecil keluarga,sahabat, sekolah hingga pemerintah yang notabene negara muslim terbesar di dunia. Yang sangat miskin memberikan penanaman konsep-konsep seorang pemuda muslim. Lantas siapa yang harus bertanggungjawab?
Menyadari kesalahan adalah salah satu langkah untuk berubah. Bukan tuduh sana-sini yang pada akhirnya masalah utama tidak terselesaikan. Ataupun berdebat hingga esensinya tidak dikupas secara tuntas. Tidak semua pemuda muslim saat ini berada dalam kesesatan masih banyak pemuda muslim yang merintis kembali jalan kemuliaan meski dengan jumlah yang lebih sedikit. Tulisan ini merupakan representasi pengalaman, keprihatinan, dan harapan penulis mengenai nasib ”pemuda muslim”. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberi label atau justifikasi pada satu institusi atau perseorangan, namun lebih pada sikap kritis terhadap fenomena yang telah penulis alami (secara riil) serta sebisa mungkin memberi alternatif pemecahan masalah. Hingga benarlah Islam sebagi Furqon.
Melihat salah satu tempat pergulatan pemuda yaitu sekolah, maka seharusnya sekolah mampu menjadi media pembelajaran keislaman, pengembangan diri pemuda muslim hingga memiliki pandangan Islam yang jernih. Seharusnya sekolah hadir sebagai orang tua kedua. Yang mampu mengayomi dan membimbing anak didiknya menuju kepribadian pemuda muslim yang tangguh. Dengan berbagai kegitan ekstrakulikuler yang mendukung seperti kegiatan kerohanian (ROHIS) sebuah wahana aktivitas pengembangan wawasan yang mengedepankan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut pandangan penulis maka kegiatan Rohis sebagai kegiatan ekstrakulikuler hukumnya “wajib” guna pembentukkan Akhlaq guna membaca ayat-ayat Kauniyah Allah swt yang tersebar di alam (dalam QS 41:53, 3:190). Bukan hanya kecerdasan intelektual saja yang utama. Tetapi kecerdasan secara spiritual pun sangat diperlukan guna pembentukkan Akhlaq dan tauhid yang kuat. Melalui berbagai macam pembinaan atau kaderisasi yang dihadirkan seperti training dan mentoring yang sinergis. Rohis sangat berperan sebagai inkubator pembelajaran dan pengembangan bagi pemuda muslim hingga mampu menjadi “agen da’wah” untuk diri dan lingkungannya. Hingga kecerdasan Akhlaq dan Tauhid mampu mengawal kecerdasan intelektual menuju kecerdasan yang hakiki yang tentunya lebih Allah ridhai. Karena pemuda muslim adalah satu-satunya tempat melabuhkan semua harapan. Pemuda Islamlah penentu kebangkitan dan eksistensinya.
Dalam kehidupan umat Islam, masjid mempunyai peranan penting dalam berbagai segi kehidupan, baik itu ruhani, keilmuan, pendidikan,maupun kemasyarakatan. Menurut ajaran Islam semua bumi adalah masjidnya ummat Islam , yaitu setiap muslim boleh melakukan shalat di sembarang tempat, kecuali di atas kuburan dan tempat yang bernajis.
Mesjid menjadi salah satu tempat penggemblengan niali-nilai Islam bagi seluruh bagian dari Islam terutama pemuda sebagai pemimpin masa depan. Perhatian Rasullulah saw dan para sahabatnya untuk mengajak anak-anaknya ke mesjid begitu besar. Mesjid sebagai media pengenalan da’wah adalah sebuah media yang sangat efektif dan memiliki pengaruh yang sangat besar. Mesjid hadir bukan sebagai tempat ritual keagamaan saja, melainkan mampu menjadi media penyambung umat tempat bertukarnya pemikiran, sehingga tidak heran pusat-pusat da’wah Islam dahulu berbasis di mesjid. Yang dimana memakmurkan mesjid pun mendapat pahala dan cinta kasih yang besar dari Allah dan selalu dalam petunjuknya seperti tersurat dalam QS At-Taubah 9:17-18.
Mesjid bisa menjadi indikator yang merefleksikan keimanan seseorang. Keteraturan dalam Shalat yang dilaksanakan di Mesjid banyak menyimpan cerita hikmah, mulai dari kerapatan shaf shalat yang melambangkan persamaan dan kekompakan dalam Islam hingga kegiatan lain yang memiliki banyak arti, semua itu menjadi pengaruh yang kuat bagi pembentukkan akhlak pemuda muslim.
Media pembelajaran bagi pemuda muslim bukan hanya dua tempat yang disebutkan di atas saja, melainkan masih banyak media lain yang mampu mengembangkan kepribadian pemuda muslim guna penyelamatan aqidah dan akhlaqnya. Janji Allah pasti akan terwujud, bahwa Islam akan kembali berjaya. Maka seperti yang dikatakan oleh Hasan Al-Banna bahwa “Umat harus bangkit. Namun aset umat ini untuk kembali bangkit telah terkuras habis, kecuali satu : itulah pemuda.” Ya, inilah saatnya bagi kita untuk bangkit, untuk senantiasa berada dalam garis keseimbangan antara amal, akal, dan ruhiyah .
Rasulullah SAW gemilang menyeru ummat ke jalan-Nya, mengubah karakter ummat dari zaman kegelapan menuju jalan penuh cahaya yang ditempuh hampir 23 tahun. Salah satu pilar strategi keberhasilannya adalah karena Rasul memiliki kekuatan suri tauladan yang sungguh luar biasa, maka dengan ketauladan beliau lah kita jadikan batu pijakan. Ketauladanan beliau dalam masalah pemuda begitu banyak, sehingga tidak ada lagi alasan kita untuk tidak mengikuti langkahnya.
Pilihan kini berada ditangan kita, untuk menjadi umat pengganti atau yang tergantikan. Waktu akan terus bergerak baik kita diam ataupun beraktifitas. Hari ini kita pemuda besok jadi pemimpin dan lusa menyatu dengan tanah. Hingga penulis berpesan untuk diri dan seluruh pemuda muslim hadapilah hidup ini dengan keimanan dan ketabahan, jangan takut, jangan menyerah karena sesungguhnya Allah swt menyertaimu..


Laut; Antara dan Harapan Keyakinan Indonesia Menjawab Perubahan Iklim

LAUT DAN PERUBAHAN IKLIM

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

Laut; Antara dan Harapan Keyakinan Indonesia Menjawab Perubahan Iklim

Pendahuluan

Global Warming dan perubahan iklim menjadi faktor penting bagi berlangsunya sebuah kehidupan. Hingga menjadi isu global yang menyita perhatian. Bahkan, sebagaimana telah diproyeksikan ilmuwan hingga puluhan tahun kedepan, perubahan iklim akan selalu menjadi sesuatu yang dikhawatirkan oleh semua pihak.: Perubahan global adalah kejadian perubahan berskala luas menyangkut semua unsur di bumi yang melibatkan berbagai unsur, antara lain astronomis, atmosfer, lautan,daratan dan biota. Perubahan ini dapat terjadi secara berskala dengan perulangan yang cukup teratur, namun juga dapat terjadi tanpa memperlihatkan keteraturan perulangan ( Sari, 2009 ).

Dampak perubahan iklim semakin dirasakan oleh semua mahluk di muka bumi ini. Akibat yang ditimbulkannyapun dapat menyentuh segala aspek kehidupan karena global warming ini merupakan masalah sosial-ekologi. Perubahan iklim dan munculnya kondisi ekstrem berkepanjangan dapat mengubah arah sejarah suatu kelompok manusia seperti masyarakat di Pulau Easter dan Pitcaim di Pasifik, Suku Anasazi di Mexico, Suku Maya di Amerika Tengah, dan lain-lain. (Jarred,2006).  Oleh karena itu, upaya menghadapi dan menurunkan laju perubahan iklim semakin serius dilakukan oleh setiap negara manapun. Dengan memanfaatkan semua sektor yang ada, para ilmuwan meyakini dampak perubahan iklim dapat dikurangi resikonya, mulai dari sektor energi, kehutanan, hingga kelautan.

‘Posisi’ Indonesia Menjawab Perubahan Iklim

Posisi strategis Indonesia yang memiliki luas laut kurang lebih 5,6 juta km2 atau sekitar 63% dari total wilayahnya. Yang memiliki  garis pantai sepanjang 81.000 km  dengan jumlah pulau mencapai 17.506 pulau. Seperti dalam sebuah laporan PBB yang baru dirilis di perundingan Kopenhagen menyatakan bahwa samudera menyerap sekitar 25% dari efek gas rumah kaca dunia yang dipompa ke atmosfir dari aktivitas manusia setiap tahun. Maka tidak dapat dipungkiri lagi Laut Indonesia mempunyai potensi besar untuk menyerap CO2 sebagai gas utama penyebab pemanasan global yang berimplikasi pada terjadinya perubahan iklim. Pembangunan kelautan Indonesia yang dimulai sejak berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan ditetapkan sebagai sektor andalan (leading sector) menuju Indonesia yang maju, makmur, dan berdaulat (Dahuri,2009). Pendekatan penting yang perlu dilakukan oleh  Indonesia dan negara-negara yang sepemahaman dalam upaya adopsi substansi kelautan dalam kesepakatan perubahan iklim. Pendekatan tersebut  yakni pendekatan  di tingkat global melalui mekanisme UNFCCC, yang kemudian diperkuat dengan pendekatan di tingkat regional dengan memanfaatkan hasil CTI Summit, sampai pendekatan di tingkat nasional/lokal.

Melihat semua fakta di atas, maka langkah kerja untuk menjawab aspek iklim ini ke dalam kebijakan nasional maupun internasional perlu segera dilakukan. Dalam laporan Working Group III, Analisis ke-4 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), kemitraan internasional juga ditempatkan sebagai komponen penting dalam mengatasi perubahan iklim global (IPCC,2007). Upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim harus dilakukan secara bersamaan agar pembangunan dapat berkelanjutan (sustainable development). Kalau pada saat ditandatanganinya Protokol Kyoto tahun 1994 sebagian besar kepala negara, pejabat publik, eksekutif perusahaan swasta, dan anggota masyarakat dunia masih menyangsikan terjadinya global warming beserta segenap dampak ikutannya, maka sejak konferensi PBB tentang perubahan iklim global pada Desember 2007 mayoritas warga dunia meyakini kemungkianan global warming tersebut, bila emisi Gas Rumah Kaca (GRK), khususnya CO2 tidak segera dikurangi secara signifikan. Menurut ketentuan UNFCC dan Protokol Kyoto, 36 negara industri maju (termasuk AS) harus mereduksi emisi GRK-nya pada 2020 sebesar 25-40% dari level 1990 ( Samudera,2009 ).

Pada COP-13 UNFCCC, di Bali, Desember 2007 yang tertuang dalam  Bali Road Map 2007 mencakup lima komponen kesepakatan, yaitu: (1) mitigasi, (2) adaptasi, (3) REDD (Reduced Emissions from Deforestation and Degradation), (4) transfer teknologi, dan (5) pendanaan (Dahuri,2009). Yang salah satu keluaran dari kesepakatan tersebut adalah Coral Triangle Intiative (CTI) yang diharapkan posisi Indonesia yang strategis menjadi ’percontohan’ manajemen kelautan. Dampak perubahan iklim dalam kurun waktu 100 tahu terakhir ini diperkirakan peningkatan temperatur rata-rata 0,6% C (Hengki,2009). Walaupun kecil, peningkatan ini telah menyebabkan beberapa perubahan. Pertama, terjadi peningkatan permukaan air laut hangat yang akan mengancam kehidupan komunitas di wilayah perairan (coastal), wetlands, dan terumbu karang. Kedua, air hangat pada laut dangkal akan mematikan terumbu karang dan mematikan binatang laut. Ketiga, perubahan ini akan menyebabkan rusaknya ekosistem: spesies yang ada akan pindah ke tempat lain, atau mati. Kelima, air laut akan semakin asam sehingga akan memberikan dampak negatif pada terumbu karang dan kehidupan laut lainnya (Ucar,2009).

Nilai Penting Ekosistem Laut Dalam Perubahan Iklim

Diperkirakan kemampuan daya serap (uptake) laut terhadap CO2 sebesar 2 Pg C per tahun (Susandi,2009). Penyerapan CO2 oleh lautan Indonesia melibatkan banyak biota laut pendukung di dalamnya termasuk fitoplankton yang mampu mereduksi karbon melalui reaksi biologis siklus karbon meskipun hasilnya sedikit, tetapi siklus lewat proses biologis ini harus juga dilaporkan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat yang pada faktanya didapatkan bahwa perairan laut Indonesia menyerap sekitar 1,8 milyar ton karbon setiap tahun (perhitungan melalui penentuan produktivitas primer dan luasan teritorial Indonesia ZEE) (Kaswadji dan Ario,2009).

Hutan mangrove memiliki peran yang unik dalam siklus karbon oseanik, yaitu pertukaran karbon di perairan pesisir (~200m kedalaman laut) memiliki peran penting di dalam siklus karbon oseanik. Karbon organik dibentuk oleh ekosistem mangrove dan lamun, kemudian dimineralisasi di zona pesisir. Selain itu produksi karbonat dan akumulasi terjadi pula di zona ini oleh ekosistem karang (Duarte et al.,2005). Besarnya produksi karbon organik dapat dilihat dari tingkat produktivitas ekosistem mangrove dan lamun. Hutan mangrove merupakan salah satu ekositem yang memiliki produktifitas yang tinggi (Komiyama et al.,2008). Menurut riviewnya, produktifitas huatn mangrove di beberapa negara berkisar antara 3,99-26,70 ton/hektar/tahun. Contoh di Indonesia, produktivitas huatan mangrove mencapai 22,90 ton/hektar/tahun (Sukardjo dan Yamada,1992). Proporsi karbon diakulmukasi dalam bentuk biomassa di atas (aboveground biomss) dan di bawah (belowgroung biomass) permukaan tanah. Tidak seperti di hutan darat, akar mangrove mengakumulasi lebih dari setengah kali karbon aboveground (Komiyama et al.,2000). Karbon akar mangrove terimpan lebih lama karena rendahnya dekomposisi akar mangrove sebagai akibat dari kondisi tanah yang selau terendam, salinitas tinggi, dan rendah oksigen yang membatasi pertumbuhan dekomposer.

Dari laju produktifitas di atas  dapat diestimasikan besarnya laju penimbunan karbon di ekosistem mangrove. Pada tabel 1 ditunjukkan estimasi laju penimbuann karbon di ekosistem mangrove dan lamun. Karbon biomassa tersimpan dalam jangka waktu puluhan tahun (Tomlinson, 1994 dalam Duarte et al., 2005) untuk mangrove dan beberapa dekade untuk lamun (Duarte & Hemimnga, 2000). Isu yang paling penting dalam peran vegetasi pantai terhadap siklus karbon oseanik adalah outwelling (Buillon et al., 2008). Fraksi karbon organik yang diproduksi vegetasi pantai diduga dilepaskan ke laut lepas lebih dari 10% (Dittmar et al., 2006). Ini menegaskan bahwa kedua ekosistem tersebut sangat penting dalam siklus karbon oseanik.

Tabel 1 . Estimasi laju penimbunan karbon organik di area vegetasi pantai (Duarte et al., 2005)

Komponen Area (10 12 m2 ) gC/m2 /tahun Ton/tahun
mangrove 0,2 139,0 23,6
Lamun 0,3 83,0 27,4

Upaya Penyelamatan

Pemanasan global apakah gejala alamiah maupun antropogenik, yang harus dilakukan adalah mengurangi sumber GRK penyebab pemansan global. Karena masalah perubahan iklim termasuk masalah sosial-ekologi maka ada beberapa langkah yang bisa diambil yaitu : (1) Social Ecological System (SES): Sistem terpadu dengan hubungan timbal balik antara alam dan manusia, (2) Kerentanan (Vulnerabilitas) : Besarnya pengaruh buruk yang dialami oleh sebuah sistem atau komponennya akibat tekanan ataupaun kejutan, (3) Ketahanan (Resilience) : Kapasitas sistem untuk mengatasi atau merespon (4) Adaptasi : Penyesuaian untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim. Kemudian strategi sosial yang tertuang dalam pengendali kesehatan masyarakat yakni melalui penguatan sistem kesehatan sebagai responds terhadap perubahan iklim kemudian, penguatan kebijakan pembangunan berwawasan kesehatan masyarakat (Health Public Policy) melalui pemberdayaan masyarakat dalam adaptasi, penguatan sistem pemantauan, surveilans, dan sistem informasi kesehatan dalam perubahan iklim. Semua upaya mitigasi dan adaptasi harus dilakukan dan terintegrasi dalam keseluruhan proses perencanaan pembangunan dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Serta diperlukannya kajian dan observasi sistematis yang merupakan kunci utama untuk menjawab kekurangan data dan basis ilimiah guna mengungkapkan peran penting laut dan pesisir dalam menekan dampak perubahan iklim.

DAFTAR PUSTAKA

Boyd, P. W. 2000. A mesosscle phytoplankton bloom in the plar southhern ocean stimulated by iron

Fertilization. Nature, 407:695-702.

Dahuri, R. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.

Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta.

IPCC.2001.Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the

Third Assessment Report of the Intergovrnental Panel on Climate Change [Houghton,J.T.,Y.Ding,D.J.Griggs, M Nouger, P.J. van der Linden, et al. (eds.)]. Cambridge University Press,Cambridge, United Kingdom and New York, NY,881pp.

IPCC (Interngovernmental Panel on Climate Change),2007. Summary for Policy Makers of IPCC Fouth

Assessment Report, Working Group IIIclimate change 2007: mitigation of climate change,

IPCC, Bangkok, Thailand.

Komiyama, A., Jin E.O., Sasitorn P. 2008. Allometry, biomass and produktivity of mangrove forest:

A review. Acuatiq Botany.89:128-137.

Dittmar, T. et al. 2006. Mangroves, a major source of dissolved organic carbon to the oceans. Global

Biogeochem. Cycles.20(1).

Duarte, C.M.; J.J. Middleburg & C. Caraco, 2005. Major role of marine vegetation on the oceanic carbon

Cycle. Biogeoscience. 2: 1-8.

Jarred D., 2006. Collapse. How societies choose to fail or survive. Penguin Books.

WWF and the University of Queensland, 2009. The Coral Triangle and Climate Change ecosystem,

People and societies at risk, Sydney, Australia.

Purwadianto.2009. Pengelolaan Bidang Kesehatan Dalam Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim

Di Indonesia. Disampaikan dalam Workshop: Laut Sebagai Pengendali Perubahan Iklim.

Bogor, 4 Agustus 2009, Indonesia.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.