Mengenal Rantai Makanan Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Pangumbahan, Sukabumi – Jawa Barat


Mengenal Rantai Makanan Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Pangumbahan, Sukabumi – Jawa Barat

I. Ekosistem Laut Pesisir Pantai Ujung Genteng, Jawa Barat

Ekosistem pesisir dan laut merupakan ekosistem alamiah yang produktif, unik dan mempunyai nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Selain menghasilkan bahan dasar untuk pemenuhan kebutuhan pangan, keperluan rumah tangga dan industri yang dalam konteks ekonomi bernilai komersial tinggi, ekosistem pesisir dan laut juga memiliki fungsi-fungsi ekologis penting, antara lain sebagai penyedia nutrien, sebagai tempat pemijahan, tempat pengasuhan dan tumbuh besar, serta tempat mencari makanan bagi beragam biota laut. Di samping itu, ekosistem pesisir dan laut berperan pula sebagai pelindung pantai atau penahan abrasi bagi wilayah daratan yang berada di belakang ekosistem ini (Bengen, 2002).
Pembahasan makalah ini dititikberatkan pada rantai makanan di ekosistem pesisir Pantai Ujung Genteng Jawa Barat. Pantai ini merupakan Pantai berlumpur yang memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup penyu di Indonesia. Dunia mengenal tujuh jenis penyu, dan enam diantaranya hidup di Indonesia. Enam penyu tersebut adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata/Hawksbill Turtle), penyu pipih (Natator depressa), penyu abu-abu (Olive ridley turtle), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu merah atau penyu tempayan (Caretta caretta). Satu penyu lainnya, yang hanya hidup di antara Laut Meksiko dan Lusiana, Amerika Serikat, adalah Leupidocalis caspri. Dari enam penyu yang ada di Indonesia salah satunya penyu hijau (Chelonia mydas) yang bertelur di Pantai Ujung Genteng.
Melihat sifat fisik dari wilayah Pantai Selatan Jawa tentunya memiliki kontur yang curam. Kondisi topografi berupa kombinasi antara dataran rendah (pantai), bukit dan pegunungan. Setelah penulis melakukan analisis dan pernah berkunjung ke Pantai Pangumbangan maka dapat dikatakan Pantai Pangumbahan termasuk jenis Pantai berpasir halus. Hal ini didasarkan pada pola hidup penyu yang hanya hidup dan mendarat di pantai yang berpasir halus kaya akan nutrient untuk tempat menetaskan telurnya. Kemudian kondisi pantai yang berhubungan langsung dengan samudera, meskipun bila diperbandingkan dengan beberapa pantai lain yang ada di Pantai Selatan seperti Pantai Sayang Heulang di Garut yang termasuk pada pantai berbatu.
II. Ekosistem Pantai Berpasir Halus
Pantai berpasir dicirikan oleh ukuran butiran sedimen halus dan memiliki tingkat bahan organik yang tinggi, pantai ini pula banyak dipengaruhi oleh pasang surut yang mengaduk sedimen secara periodik. Interaksi organisme dengan sedimen dan pengaruh evaporasi perairan sangat tinggi di lingkungannya. Faktor fisik yang berperan penting mengatur kehidupan di pantai berpasir adalah gerakan ombak. Gerakan ombak ini mempengaruhi ukuran partikel dan pergerakan substrat di pantai. Jika gerakan ombak kecil, ukuran partikelnya kecil, tetapi jika gerakan ombak besar atau kuat, ukuran partikelnya akan menjadi kasar dan membentuk deposit kerikil.
Pengaruh ukuran partikel terhadap organisme yang hidup pada pantai tersebut adalah pada penyebaran dan kelimpahannya. Butiran pasir yang halus mempunyai retensi air yang mampu menampung lebih banyak air di atas dan memudahkan organisme untuk menggali. Gerakan ombak dapat pula mengakibatkan partikel-partikel pasir atau kerikil menjadi tidak stabil sehingga partikel-partikel substrat akan terangkut, teraduk, dan terdeposit kembali. Karena kondisi di lapisan permukaan sedimen yang terus menerus bergerak, maka hanya sedikit organisme yang mempunyai kemampuan untuk menetap secara permanen sehingga inilah yang menyebabkan pantai seperti terlihat tandus.
Faktor lingkungan seperti suhu, kekeringan, serta gerakan ombak beraksi secara beragam pada tiap pasang surut. Kekeringan bukan merupakan masalah selama pasir pantai cukup halus sehingga dapat menahan air melalui kegiatan kapiler selama pasang turun. Pasir juga merupakan penyangga yang baik bagi perubahan suhu dan salinitas yang besar.
III. Rantai Makanan Pantai Berpasir Halus
Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan-herbivora-carnivora). Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%–90% energi potensial hilang sebagai panas, karena itu langkah-langkah dalam rantai makanan terbatas 4-5 langkah saja. Dengan perkataan lain, semakin pendek rantai makanan semakin besar pula energi yang tersedia (http://id.wikipedia.org/wiki/rantai_makanan).
Ada dua tipe dasar rantai makanan:
1. Rantai makanan rerumputan (grazing food chain). Misalnya: tumbuhan-herbivora-carnivora.
2. Rantai makanan sisa (detritus food chain). Bahan mati mikroorganisme (detrivora = organisme pemakan sisa) predator.
Organisme yang berada di pantai berpasir mempunyai kemampuan beradaptasi dengan dua cara yaitu dengan menggali substrat sampai kedalaman yang tidak lagi di pengaruhi gelombang yang lewat, kemampuan menggali substrat dengan cepat ketika gelombang lewat memindahkan organisme dari substrat. Adaptasi lain, kebanyakan molusca yang mengubur dirinya cenderung mempunyai cangkang yang licin dan berat. Adaptasi terakhir adalah mencegah terjadinya penyumbatan permukaan alat pernapasan yaitu dengan penyaring (sekat) yang dapat mencegah pasir masuk kedalamnya tetapi air dapat masuk.
IV. Komunitas Penyu Hijau Penghuni Pantai Berpasir Pantai Ujung Genteng

Adanya spesies penyu hijau yang mendiami daerah ini karena masih seimbangnya rantai makanan. Mulai dari adanya padang lamun sebagai penyedia makanan kemudian detritus, sampai penyu hijau sebagai konsumen utama. Dalam bagian ini, diuraikan tiga bagian terbesar dalam rantai makanan pantai berpasir yaitu: detritus, padang lamun, dan penyu hijau. Meskipun letak padang lamun di Pantai Pangumbahan tidak berdekatan dikarenakan kontur pantai yang curam tetapi suplai makanan untuk penyu hijau terpenuhi. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya penyu hijau yang bertelur di daerah ini.

Daftar Pustaka

Azkab, M. H. 1994. Komunitas Padang Lamun pada Tiga Pulau dari Kepulauan Seribu dengan Kegiatan Manusia yang Berbeda. Makalah Penunjang pada Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Jakarta, 7-9 Februari 1994. Puslitbang Oseanologi LIPI, Jakarta. hal. 93-98.
Barber, B.J.1985. Effects of elevated temperature on seasonal in situ leaf productivity of Thalassia testudinum banks ex konig and Syringodium fliforme kutzing. Aquatic Botany 22:61-69.
Bengen,D.G. 2001. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Instititut Pertanian Bogor.
Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut: Aset pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 412 halaman.

Tentang Abdul Malik Firdaus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: