Laut; Antara dan Harapan Keyakinan Indonesia Menjawab Perubahan Iklim


LAUT DAN PERUBAHAN IKLIM

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

Laut; Antara dan Harapan Keyakinan Indonesia Menjawab Perubahan Iklim

Pendahuluan

Global Warming dan perubahan iklim menjadi faktor penting bagi berlangsunya sebuah kehidupan. Hingga menjadi isu global yang menyita perhatian. Bahkan, sebagaimana telah diproyeksikan ilmuwan hingga puluhan tahun kedepan, perubahan iklim akan selalu menjadi sesuatu yang dikhawatirkan oleh semua pihak.: Perubahan global adalah kejadian perubahan berskala luas menyangkut semua unsur di bumi yang melibatkan berbagai unsur, antara lain astronomis, atmosfer, lautan,daratan dan biota. Perubahan ini dapat terjadi secara berskala dengan perulangan yang cukup teratur, namun juga dapat terjadi tanpa memperlihatkan keteraturan perulangan ( Sari, 2009 ).

Dampak perubahan iklim semakin dirasakan oleh semua mahluk di muka bumi ini. Akibat yang ditimbulkannyapun dapat menyentuh segala aspek kehidupan karena global warming ini merupakan masalah sosial-ekologi. Perubahan iklim dan munculnya kondisi ekstrem berkepanjangan dapat mengubah arah sejarah suatu kelompok manusia seperti masyarakat di Pulau Easter dan Pitcaim di Pasifik, Suku Anasazi di Mexico, Suku Maya di Amerika Tengah, dan lain-lain. (Jarred,2006).  Oleh karena itu, upaya menghadapi dan menurunkan laju perubahan iklim semakin serius dilakukan oleh setiap negara manapun. Dengan memanfaatkan semua sektor yang ada, para ilmuwan meyakini dampak perubahan iklim dapat dikurangi resikonya, mulai dari sektor energi, kehutanan, hingga kelautan.

‘Posisi’ Indonesia Menjawab Perubahan Iklim

Posisi strategis Indonesia yang memiliki luas laut kurang lebih 5,6 juta km2 atau sekitar 63% dari total wilayahnya. Yang memiliki  garis pantai sepanjang 81.000 km  dengan jumlah pulau mencapai 17.506 pulau. Seperti dalam sebuah laporan PBB yang baru dirilis di perundingan Kopenhagen menyatakan bahwa samudera menyerap sekitar 25% dari efek gas rumah kaca dunia yang dipompa ke atmosfir dari aktivitas manusia setiap tahun. Maka tidak dapat dipungkiri lagi Laut Indonesia mempunyai potensi besar untuk menyerap CO2 sebagai gas utama penyebab pemanasan global yang berimplikasi pada terjadinya perubahan iklim. Pembangunan kelautan Indonesia yang dimulai sejak berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan ditetapkan sebagai sektor andalan (leading sector) menuju Indonesia yang maju, makmur, dan berdaulat (Dahuri,2009). Pendekatan penting yang perlu dilakukan oleh  Indonesia dan negara-negara yang sepemahaman dalam upaya adopsi substansi kelautan dalam kesepakatan perubahan iklim. Pendekatan tersebut  yakni pendekatan  di tingkat global melalui mekanisme UNFCCC, yang kemudian diperkuat dengan pendekatan di tingkat regional dengan memanfaatkan hasil CTI Summit, sampai pendekatan di tingkat nasional/lokal.

Melihat semua fakta di atas, maka langkah kerja untuk menjawab aspek iklim ini ke dalam kebijakan nasional maupun internasional perlu segera dilakukan. Dalam laporan Working Group III, Analisis ke-4 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), kemitraan internasional juga ditempatkan sebagai komponen penting dalam mengatasi perubahan iklim global (IPCC,2007). Upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim harus dilakukan secara bersamaan agar pembangunan dapat berkelanjutan (sustainable development). Kalau pada saat ditandatanganinya Protokol Kyoto tahun 1994 sebagian besar kepala negara, pejabat publik, eksekutif perusahaan swasta, dan anggota masyarakat dunia masih menyangsikan terjadinya global warming beserta segenap dampak ikutannya, maka sejak konferensi PBB tentang perubahan iklim global pada Desember 2007 mayoritas warga dunia meyakini kemungkianan global warming tersebut, bila emisi Gas Rumah Kaca (GRK), khususnya CO2 tidak segera dikurangi secara signifikan. Menurut ketentuan UNFCC dan Protokol Kyoto, 36 negara industri maju (termasuk AS) harus mereduksi emisi GRK-nya pada 2020 sebesar 25-40% dari level 1990 ( Samudera,2009 ).

Pada COP-13 UNFCCC, di Bali, Desember 2007 yang tertuang dalam  Bali Road Map 2007 mencakup lima komponen kesepakatan, yaitu: (1) mitigasi, (2) adaptasi, (3) REDD (Reduced Emissions from Deforestation and Degradation), (4) transfer teknologi, dan (5) pendanaan (Dahuri,2009). Yang salah satu keluaran dari kesepakatan tersebut adalah Coral Triangle Intiative (CTI) yang diharapkan posisi Indonesia yang strategis menjadi ’percontohan’ manajemen kelautan. Dampak perubahan iklim dalam kurun waktu 100 tahu terakhir ini diperkirakan peningkatan temperatur rata-rata 0,6% C (Hengki,2009). Walaupun kecil, peningkatan ini telah menyebabkan beberapa perubahan. Pertama, terjadi peningkatan permukaan air laut hangat yang akan mengancam kehidupan komunitas di wilayah perairan (coastal), wetlands, dan terumbu karang. Kedua, air hangat pada laut dangkal akan mematikan terumbu karang dan mematikan binatang laut. Ketiga, perubahan ini akan menyebabkan rusaknya ekosistem: spesies yang ada akan pindah ke tempat lain, atau mati. Kelima, air laut akan semakin asam sehingga akan memberikan dampak negatif pada terumbu karang dan kehidupan laut lainnya (Ucar,2009).

Nilai Penting Ekosistem Laut Dalam Perubahan Iklim

Diperkirakan kemampuan daya serap (uptake) laut terhadap CO2 sebesar 2 Pg C per tahun (Susandi,2009). Penyerapan CO2 oleh lautan Indonesia melibatkan banyak biota laut pendukung di dalamnya termasuk fitoplankton yang mampu mereduksi karbon melalui reaksi biologis siklus karbon meskipun hasilnya sedikit, tetapi siklus lewat proses biologis ini harus juga dilaporkan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat yang pada faktanya didapatkan bahwa perairan laut Indonesia menyerap sekitar 1,8 milyar ton karbon setiap tahun (perhitungan melalui penentuan produktivitas primer dan luasan teritorial Indonesia ZEE) (Kaswadji dan Ario,2009).

Hutan mangrove memiliki peran yang unik dalam siklus karbon oseanik, yaitu pertukaran karbon di perairan pesisir (~200m kedalaman laut) memiliki peran penting di dalam siklus karbon oseanik. Karbon organik dibentuk oleh ekosistem mangrove dan lamun, kemudian dimineralisasi di zona pesisir. Selain itu produksi karbonat dan akumulasi terjadi pula di zona ini oleh ekosistem karang (Duarte et al.,2005). Besarnya produksi karbon organik dapat dilihat dari tingkat produktivitas ekosistem mangrove dan lamun. Hutan mangrove merupakan salah satu ekositem yang memiliki produktifitas yang tinggi (Komiyama et al.,2008). Menurut riviewnya, produktifitas huatn mangrove di beberapa negara berkisar antara 3,99-26,70 ton/hektar/tahun. Contoh di Indonesia, produktivitas huatan mangrove mencapai 22,90 ton/hektar/tahun (Sukardjo dan Yamada,1992). Proporsi karbon diakulmukasi dalam bentuk biomassa di atas (aboveground biomss) dan di bawah (belowgroung biomass) permukaan tanah. Tidak seperti di hutan darat, akar mangrove mengakumulasi lebih dari setengah kali karbon aboveground (Komiyama et al.,2000). Karbon akar mangrove terimpan lebih lama karena rendahnya dekomposisi akar mangrove sebagai akibat dari kondisi tanah yang selau terendam, salinitas tinggi, dan rendah oksigen yang membatasi pertumbuhan dekomposer.

Dari laju produktifitas di atas  dapat diestimasikan besarnya laju penimbunan karbon di ekosistem mangrove. Pada tabel 1 ditunjukkan estimasi laju penimbuann karbon di ekosistem mangrove dan lamun. Karbon biomassa tersimpan dalam jangka waktu puluhan tahun (Tomlinson, 1994 dalam Duarte et al., 2005) untuk mangrove dan beberapa dekade untuk lamun (Duarte & Hemimnga, 2000). Isu yang paling penting dalam peran vegetasi pantai terhadap siklus karbon oseanik adalah outwelling (Buillon et al., 2008). Fraksi karbon organik yang diproduksi vegetasi pantai diduga dilepaskan ke laut lepas lebih dari 10% (Dittmar et al., 2006). Ini menegaskan bahwa kedua ekosistem tersebut sangat penting dalam siklus karbon oseanik.

Tabel 1 . Estimasi laju penimbunan karbon organik di area vegetasi pantai (Duarte et al., 2005)

Komponen Area (10 12 m2 ) gC/m2 /tahun Ton/tahun
mangrove 0,2 139,0 23,6
Lamun 0,3 83,0 27,4

Upaya Penyelamatan

Pemanasan global apakah gejala alamiah maupun antropogenik, yang harus dilakukan adalah mengurangi sumber GRK penyebab pemansan global. Karena masalah perubahan iklim termasuk masalah sosial-ekologi maka ada beberapa langkah yang bisa diambil yaitu : (1) Social Ecological System (SES): Sistem terpadu dengan hubungan timbal balik antara alam dan manusia, (2) Kerentanan (Vulnerabilitas) : Besarnya pengaruh buruk yang dialami oleh sebuah sistem atau komponennya akibat tekanan ataupaun kejutan, (3) Ketahanan (Resilience) : Kapasitas sistem untuk mengatasi atau merespon (4) Adaptasi : Penyesuaian untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim. Kemudian strategi sosial yang tertuang dalam pengendali kesehatan masyarakat yakni melalui penguatan sistem kesehatan sebagai responds terhadap perubahan iklim kemudian, penguatan kebijakan pembangunan berwawasan kesehatan masyarakat (Health Public Policy) melalui pemberdayaan masyarakat dalam adaptasi, penguatan sistem pemantauan, surveilans, dan sistem informasi kesehatan dalam perubahan iklim. Semua upaya mitigasi dan adaptasi harus dilakukan dan terintegrasi dalam keseluruhan proses perencanaan pembangunan dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Serta diperlukannya kajian dan observasi sistematis yang merupakan kunci utama untuk menjawab kekurangan data dan basis ilimiah guna mengungkapkan peran penting laut dan pesisir dalam menekan dampak perubahan iklim.

DAFTAR PUSTAKA

Boyd, P. W. 2000. A mesosscle phytoplankton bloom in the plar southhern ocean stimulated by iron

Fertilization. Nature, 407:695-702.

Dahuri, R. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.

Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta.

IPCC.2001.Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the

Third Assessment Report of the Intergovrnental Panel on Climate Change [Houghton,J.T.,Y.Ding,D.J.Griggs, M Nouger, P.J. van der Linden, et al. (eds.)]. Cambridge University Press,Cambridge, United Kingdom and New York, NY,881pp.

IPCC (Interngovernmental Panel on Climate Change),2007. Summary for Policy Makers of IPCC Fouth

Assessment Report, Working Group IIIclimate change 2007: mitigation of climate change,

IPCC, Bangkok, Thailand.

Komiyama, A., Jin E.O., Sasitorn P. 2008. Allometry, biomass and produktivity of mangrove forest:

A review. Acuatiq Botany.89:128-137.

Dittmar, T. et al. 2006. Mangroves, a major source of dissolved organic carbon to the oceans. Global

Biogeochem. Cycles.20(1).

Duarte, C.M.; J.J. Middleburg & C. Caraco, 2005. Major role of marine vegetation on the oceanic carbon

Cycle. Biogeoscience. 2: 1-8.

Jarred D., 2006. Collapse. How societies choose to fail or survive. Penguin Books.

WWF and the University of Queensland, 2009. The Coral Triangle and Climate Change ecosystem,

People and societies at risk, Sydney, Australia.

Purwadianto.2009. Pengelolaan Bidang Kesehatan Dalam Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim

Di Indonesia. Disampaikan dalam Workshop: Laut Sebagai Pengendali Perubahan Iklim.

Bogor, 4 Agustus 2009, Indonesia.

About abmaf


46 responses to “Laut; Antara dan Harapan Keyakinan Indonesia Menjawab Perubahan Iklim

  • rahyu

    mmm ay g ngerti uy,,,hehe..

  • Idris

    waduh,, kena syndrom tulisan panjang nih gw… (Males baca ) hahahah….😛

  • indRii

    artikel yg cukup menambah wawasan saya..

    Ada yg saya ingin tanyakan mengenai siklus oseanik, tolong diperjelas lg atau kalau bisa dideskrpsikan kembali ?..

    thx b4

  • Sandi Mohammad Solihin

    weww first scientific journ yaa.. selamaat..

  • jelajahlaut

    tadi disebutkan bahwa penyerapan karbon berkaitan dengan produktivitas primer, sedangkan laju produktivitas primer sendiri sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari dan unsur hara.
    nah, apakah penyerapan karbon sendiri terpengaruh oleh ketersediaan unsur hara ??

  • RISA

    hubungan timbal balik antara alam dan manusia itu bagaimana?
    apa jumlah karbondioksida yang diserap mangroove pada siang hari akan sama jumlahnya yang dikeluarkan mangrove pada malam hari??

    • Abdul Malik Firdaus

      hubungan timbal balik antar alam-manusia haruslah simbiosis mutualisme.
      jelas beda..pada pagi hari mangrove melakukan fotosintesis yg dmna CO2 digunakan sebagi bahan baku fotosintesis dengan bantuan sinar matahari.

  • jimmykalther

    saat ini, banyak pihak (LSM) yg mengatasnamakan kepedulian terhadap lingkungan, apakah itu dpat menjdi slh stu jlan untuk mewujudkn hrpan bangsa untuk lepas dr jerat global warming?

  • jimmykalther

    saat ini, banyak pihak (LSM) yg mengatasnamakan kepedulian terhadap lingkungan, apakah itu dpat menjdi slh stu jlan untuk mewujudkn hrpan bangsa untuk lepas dr jerat global warming?

    komen d jimmykalther.Wordpress.com

  • M. Indera G.S.P.

    us,,
    kita sekelompok..
    ngke gantian komen di blog urg nya ..

    apakah benar us akhir” ini dampak perubahan iklim banyak penduduk yang melakukan migrasi??? jelaskan!!
    oiy,,
    apakah perubahan iklim di 2010 lebih parah atau aga membaik dari 2009 kalu dilihat dari kacamata pengetahuan daus ??

    nuhun us ..

    • Abdul Malik Firdaus

      sy blm tahu pasti mengenai migrasi yg diakibatkan oleh perubahan iklim.
      tetapi yg jelas namanya manusia dia akan berpindah ke tempat yg lebih nyaman menurut rasa dan pandangannya. jika dihubungkan dengan perubahan iklim maka ada beberapa daerah yg seiring dengan perubahan iklim mengalami perubahan seperti daerah pesisir yakni dengan adanya sea level rise…yang mengakibatkan berkurangnya daratan.
      menjawab parah atau membaiknya perubahan iklim di tahun 2010 rasanya saya kyak jadi peramal….hehe
      tapi yang jelas perubahan iklim dapat dicegah dengan berbagai solusi yang dikaji berbagai pihak seperti muali dari energi yg dapat beralih ke energi yg ramah lingkungan, kemudian pemanfaatan hutan lewat mekanisme REDD,kemudian kelautan yg yang seperti saya bahas di atas.
      terimakasih..

  • ekoph

    nice blog…
    keep posting
    kalo bisa bahasanya yang sederhana

  • Faisal_npm_39

    Menurut dari tulisan anda, di paragraf 4 anda menyinggung penandatanganan “Protokol Kyoto”.
    Pertanyaan saya, apa isi dan maksud dari penandatanganan tsb. ? Dan apa hubungannya dari masalah yang anda kaji sendiri ?

    • Abdul Malik Firdaus

      ya jelas ada hubungan yg erat antara materi yg saya bahas yakni akibat dari perubahan iklim.
      akibat perubahan iklim lahir protokol kyoto.
      mengutip dari blognya candra: “Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2%.Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC – yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-2012.
      sy tidak spesifik bahas protokol kyoto tp hanya intermezo saja betapa ironi masalah perubahan iklim baru dimengerti saat ini.

  • bella..brella =)

    Artikelya baguus banget us ..
    Tapi masih kurang paham dengan upaya penyelamatan pada point 2 Kerentanan (Vulnerabilitas) : Besarnya pengaruh buruk yang dialami oleh sebuah sistem atau komponennya akibat tekanan ataupaun kejutan, itu maksudnya gimana? Dan contoh usaha simpel yang bisa kita lakukan apa?
    Makasii ya uss

    • Abdul Malik Firdaus

      Kerentanan (Vulnerabilitas) : Besarnya pengaruh buruk yang dialami oleh sebuah sistem atau komponennya akibat tekanan ataupaun kejutan..
      membahas kerentan sebagai salah satu upaya penyelamatan membutuhkan bahasan tersendiri.
      kerentanan disini merupakan parameter internal yang tercipta dan berasal dari manusia, upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat resiko bencana adalah dengan mengurangi tingkat kerentanan. Pengurangan tingkat kerentanan ini dilakukan dengan meng-introdus, me-modifikasi dan me-rekayasa terhadap komponen yang terdapat pada setiap aspek kerentanan meliputi fisik, sosial, ekonomi, sistem dan ekologi karena telah saya tekankan kalau masalah perubahan iklim adalah masalah sosial-ekologi.
      usaha yg bisa kt lakukan…menanam pohon, buang sampah pd tempatnya,hemat air,hemat energi, dll

  • djeecintalaut

    ada yang mau saya tanyakan menurut daus
    apakah laut sekarang ini masih dibilang dapat menyerap carbon?
    namun beberapa informasi mengatakan laut tidak lagi menyerap carbon bahkan menghasilkan,,
    kasih alasannya ya dauss!makasih

    • Abdul Malik Firdaus

      coba dj baca ulang tulisan dauz…disana dah dijelaskan klo laut Indonesia sangat berpotensi menjadi karbon sink dengan revitalisasi kembali kekayaan laut seperti mangrove, lamun, fitoplankton..yang jelas2 biota tersebut berperan dalam siklus karbon di laut.
      terimakasih pertanyaannya..

  • Irman Eka Septiarusli

    Bagaimana tanggapan anda mengenai hasil KTT Copenhagen yg mengatakan bahwa asistensi untuk penanggulangan dan pencegahan pemanasan global yg hanya sebesar 10 Miliar US$ dr negara innex 1 ?
    Padahal hal ini tidak setimpal dengan kerusakan yg ada .
    Dalam KTT tersebut Amerika dan Kazakstan belum meratifikasi hasilnya .
    Kemukakan pandangan anda tentang apa alasan mereka belum meratifikasi hasil KTT tersebut ?

    Tulisan anda berkaitan dengan artikel yg sy tulis .

    Silahkan kunjungi
    irmaneka.wordpress.com

  • Irman Eka Septiarusli

    *maap ,
    Dalam pertanyaan saya diatas tertulus negara “innex 1” ,
    Terjadi kesalahan pengetikan ,
    Maksud saya adalah negara “Annex 1” .
    Terima kasih .

    • Abdul Malik Firdaus

      Saudara irman sebelunya saya akan menyangkal tulisan km di paragraph ke 2 “ Indonesia menjadi penyelenggara sekaligus pelopor konfrensi dunia yang menyikapi masalah pemanasan global ini”. Km dapat sumber tersbt dr mana? Indonesia bukan pelopor. Konferensi dunia tetang perubahan iklim sudah dimulai jauh sebelum UFCCC ke-3 (Conference of Parties COP-3) di Kyoto, Jepang 12 Desember 1997 yang menghasilkan Protokol Kyoto sebuah perangkat peraturan sebagai pendekatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Kepentingan protokol Kyoto tersebut adalah mengatur pengurangan emisi GRK dari semua Negara-negara yang meratifikasi
      Di dalam protocol Kyoto disepakati bahwa seluruh Negara ANNEX 1 wajib menurunkan emisi GRK mereka rata-rata sebesar 5,2% dari tingkat emisi tersebut di tahun 1990. Tahun 1990 ditetapkan dalam protocol Kyoto sebagai acuan dasar untuk menghitung tingkat emisi GRK. Bagi Negara non-ANNEX 1, Protokol Kyoto tidak mewajibkan penurunan emisi GRK, tetapi mekanisme partisipasi untuk penurunan emisi tersebut terdapat di dalamnya, prinsip tersebut dikenal dengan istilah “tangguang jawab bersama dengan porsi berbeda” (common but differentiated) (laporan IPCC, 2001). Protokol Kyoto mengatur semua ketentuan tersebut selama periode komitmen pertama yaitu dari tahun 2008 sampai 2012.
      Berikut Beberapa mekanisme dalam protocol Kyoto yang mengatur masalah pengurangan emisi GRK , seperti dijelaskan dibawah ini (Susandi,2006):
      1. Joint Implementation (JI), mekanisme yang meungkinkan Negara-negara maju untuk membangun proyek bersama yang dapat menghasilkan kredit penurunan atau penyerapan emisi GRK
      2. Emission Trading (ET), mekanisme yang memungkinkan sebuah Negara maju untuk menjual kredit penurunan emisi GRK kapada Negara maju lainnya. ET dapat dimungkinkan ketika Negara maju yang menjual kredit penurunan emisi GRK melebihi target negaranya.
      3. Clean Development Mechanism (CDM), mekanisme yg memungkinkan Negara-negara non-ANNEX (Negara-negara berkembang) untuk berperan aktif membantu penurunan emisi GRK melalui proyek yang diimplementasikan oleh sebuah Negara maju. Nantinya GRK yang dihasilkan dari proyek tersebut dapat dimiliki oleh Negara maju tersebut. CDM juga bertujuan agar Negara berkembang dapat mendukung pembangunan berkelanjutan, selai itu CDM adalah satu-satunya mekanisme dimana Negara berkembang dapat berpartisipasi dalam protocol Kyoto.
      Bagi negar-negara ANNEX 1, mekanisme-mekanisme di atas adalah perwujudan dari prinsip mekanisme fleksibel (flexibility mechnism). Mekanisme fleksibel memungkinkan Negara-negara ANNEX 1 mencapai target penurunan emisi mereka dengan 3 mekanisme tersebut di atas. Indonesia sebagai Negara non-ANNEX 1 memiliki kepentingan dalam kebijakan internasional tersebut untuk memperoleh keuntungan kredit yang dihasilkan dari penangkapan kadar GRK di atmosfir. Potensi laut Indonesia yang telah disebutkan sebelumnya menjadi salah atu sector penting dalam mewujudkan kepentingan ini. Melalui mekanisme kebijakan internasionla Protokol Kyoto tersebut, laut Indonesia dapat berpotensi menguntungkan bagi Negara Indonesia untuk ikut serta dalam mekanisme CDM yang telah ditetapkan.
      Apa yg menjadi fakta anada yang menguatkan klo Amerika dan Kazakstan belum meratifikasi hasilnya? Ini tulisan perkataan Obama sebagai Presiden Amerika yg saya kutip dari (detik.com 20-12-2009) dan (ANTARA News/Reuters, Sabtu, 19 Desember 2009) “Untuk pertama kali dalam sejarah, semua negara ekonomi maju bersama menerima tanggung jawab mereka untuk mengambil tindakan menghadapi ancaman perubahan iklim. “Kita harus membangun di atas momentum yang telah kita ciptakan di sini di Kopenhagen guna menjamin bahwa aksi internasional untuk secara signifikan mengurangi emisi adalah berkelanjutan dan efisien sepanjang masa,” kata Obama. Kesepakatan itu memperkirakan kontribusi Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 3,6 miliar dalam bentuk dana iklim untuk periode 2010-2012. Sementara itu, Jepang akan berkontribusi sebesar US$ 11 miliar, danUni Eropa sebesar US$ 10,6 miliar. Kesepakatan ini juga mencakup komitmen untuk membatasi pemanasan global hingga dua derajat Celcius “Ke depan, kita harus membangun momentum yang kita capai di sini. Kita telah berjalan jauh, tapi kita harus berjalan lebih jauh lagi” (Barack Obama,untuk COP-15 Copenhagen)

  • rizki

    aduh2, kaya makalah. hehehehhe. tapi keren lah ^^. saya udah link blognya.nuhun ya?

  • thefadhil

    selamat blog anda paling baguss..

    what a nice blog

    saya punya sedikit pertanyaan mengenai tulisan anda !!!

    bagaimana indonesia bisa menjadi negara yang diberi mandat oleh negara-negara aadikuasa untuk menanggulangi permasalahan global warming dengan keadaan negeri yang maasih terlalu simpang siur ?

    • Abdul Malik Firdaus

      terimakasih atas pujiannya…
      Indonesia menjadi negara pengendali perubahan iklim adalah impian kita semua.
      menurut saya klo memang masih simang siur sepertinya masih tetap jalan karena Indonesia memiliki Dept Lingkungan hidup dan dept lain yg peduli lingkungan.
      tentunya hasilnya akan max jk leadernya benar2 mau berubah…
      sekarang mengharapkan pemimpin kt peduli sangat sulit…mari kt awali dr diri kt sendiri untuk berubah…
      Let’s Change,,,,

  • sefray

    assalamualaikum daus

    good blog !!!

    saya ingin sedikit bertanya ..

    apakah hutan mangrove menjadi satu-satunya solusi dari pemerintah indonesia dalam mandatnya menjadi negara yang yang diberikan tanggung jawab mengatasi global warming ??

    terimakasih

    • Abdul Malik Firdaus

      waalaikumslam..
      terimakasih..
      bukan hanya penanaman mangrove saja yg dijadikan sebagai solusi untuk menjawab perubahan iklim tapi masih banyak kebijakan lain untuk mengatasi isu perubahan iklim
      seperti revitalisasi kembali REDD, pengurangan emisi gas buang industri, kendaraan bermotor,. dsb

  • FaisaL

    Uz..,, masukan nih buat ente..
    Tolong komentar si penannya ditampilkan juga..
    Jangan hanya komntar jawaban ente aja yang di tampilkan..
    Kita kan jadi ga tau jawaban dari pertanyaan apa yang ente jawab itu..

    Thanks..

  • laluauliyaakraboe

    saya pernah baca sebuah jurnal geologi yg mengatakan global warming adalah siklus bumi.
    bagaimana menurut pendapatmu yg relevan dengan ungkapan teori yg km paparkan di atas??
    thanks

  • DrHolic

    Peertanyaan gw tuh bukan lalu,,

    • Abdul Malik Firdaus

      julius, Menurut pendapat saya , saya setuju kalau global warming adalah bagian dari siklus bumi yang dimana pemanasan global adalah bagian akhir siklus interglasial menuju zaman glacial yg ditandai oleh penurunan suhu bumi (Willis et al, 2004), tetapi perilaku kegiatan manusia (anthropogenik)yang tidak ramah lingkuangn membuat global warming hadir lebih cepat di masa ini. Pemanasan global apakah gejala alamiah maupun anthropogenic, yang harus dilakukan adalah mengurangi sumber GRK penyebab pemanasan global

  • satriokelautan

    kira-kira menurut pendapat (bukan opimi orang lain) anda sebagai insan berpendidikan, seberapa lamakah dunia ini bisa kembali seperti iklim yang stabil atau semula??

    • Abdul Malik Firdaus

      satrio, Melihat fakta dan kenyataan sekarang saya tidak yakin iklim akan kembali stabil seperti semula…dan memang idak akan bisa kembali seperi semul tp membaik bisa…
      gni analoginya: ketika gelas idak pernah dicuci dan banyak kotoran sekalinya kita cuci akan tetap masih ada noda pengotor hingga tidak bisa bersih spt semula.

  • Abdul Malik Firdaus

    mohon maaf bagi semua teman-yteman yang telah mengirimkan komentar dan pertanyaan belum dapat saya tampilkan, dikarenakan saya blm lancar menggunakan wordpess.
    kritik dan masukan sangat diharapkan, untuk perbaikan gar lebih baik…

    Abmaf
    Best Regards…

  • naisannisa

    daus nais mau nanya aja yaaah hehehee..

    kan tadi nais baca bahwa laut berperan sebagai penyerap CO2, tapi ada kontroversi bahwa terumbu karang masih dipertanyakan peranannya sebagai carbon source atau carbon sink.

    nah menutrut pendapat daus sendiri gimana?? oke uuz nuhun

    • Abdul Malik Firdaus

      masalah lautan sebagi source atu sink tergantung letak lautnya itu sendiri…
      jadi nais nanya nya harus dengan tempatnya…
      mis laut Indonesia bagian barat ternyata berindikasi menjadi source, sedangkan laut Indonesia bagian timur lebih menjadi sink…
      nah ternyata scr global laut Indonesiua berpotensi menjadi carbon sink..seperti apa yg telah uz paparkan di tulisan uz Laut;Antara Harapan dan Keyakian Indonesia Menjawab Perubahan Iklim…
      silahkan baca kembali….
      terimaksih

  • muhammaddio

    us mau nanya…
    klo dampak pemanasan global bagi perekonomian masyarakat pesisir ada ga??

    • Abdul Malik Firdaus

      y tentunya..
      perubahan iklim yang berimbas pada perubahan iklim jelas berdampak pada perekonomian masyarakat pesisir…
      dengan adanya pemansan global terjadi fenomena-fenomena alam seperti kenaikan muka air laut yg mengakibatkan terendamnya pulau2 kecil, terndamnya tambak, sawah, ladang..
      kemudian dengan adanya pemansan global terjadi kenaikan suhu air lut yg menyebabkan bleaching pada terumbu karang yg pada akhirnya ikan tidak hidup lg di sana, yang parahnya lagi ikan akan mencari tempat yg lebih dingin…
      masih banyak masalah yg ditimbulkan akaiabt pemanasan global ini….

  • Gilang Muhammad Gemilang

    wah bagus ^^

  • rorien

    isi artikelnya baguUs dan menarik,,
    cuma cara penulisannya terlalu padet. jadi kurang enak dibaca. coba dibikin lebiih rapii lagi.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: