Ekologi Laut Tropis Sebuah Kajian Awal Mengenal Karakteristik Laut Indonesia


Ekologi Laut Tropis Sebuah Kajian Awal Mengenal Karakteristik Laut Indonesia

Indonesia merupakan negara megabiodiversity terbesar kedua di dunia setelah Brazil, dan terbesar di dunia dalam hal keragaman hayati laut. Hal ini dipastikan setelah Indonesia terbukti memiliki seluruh ekosistem bahari tropis yang terlengkap di dunia, mulai dari hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Karena itu, diperlukan langkah startegis dalam mengungkap potensi yang sangat besar. Strategi awal untuk membuka potensi besar di atas adalah dengan mulai mengenal dari mahluk hidup yang terkandung di dalamnya.
Dalam mempelajari mahluk hidup tentu kita akan berbicara dengan banyak kegiatan mahluk itu sendiri dalam lingkungannya baik interaksi internal maupun eksternal dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Beberapa kebutuhan mahluk hidup tersebut diantaranya: kebutuhan nutrisi, transportasi, metabolisme, gerak dan iritabilitas, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, adaptasi, regulasi. Hal tersebut meruapkan kebutuhan yang mutlak untuk dipenuhi, yang apabila tidak terpenuhi akan menimbulkan masalah yang besar.
Ekosistem laut tropis memiliki beberapa cirri yang berbeda dengan ekosistem laut di daerah lain seperti : sinar matahari terus menerus sepanjang tahun (hanya ada dua musim, hujan dan kemarau) hal ini merupakan kondisi optimal bagi produksi fitoplankton, memiliki predator tertinggi, jaring-jaring makanan dan struktur trofik komunitas pelagic, Secara umum terdiri dari algae, herbivora, penyaring, predator dan predator tertinggi, sertra memilki tingkat keragaman yang tinggi dengan jumlah sedikit apabila dibandingkan dengan tipe daerah seperti subtropis dan kutub.
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi yang merupakan siklus interaksi antara bumi, laut dan udara. Materi yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organic anorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi jugs melibatkan reaksireaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur.
Fungsi Daur Biogeokimia adalah sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga. Di sini hanya akan dibahas 3 macam siklus, yaitu siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus karbon.
Pertama, siklus nitrogen, gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/ petir. Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02- ), dan ion nitrat (N03- ). Beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen.
Kedua, siklus fosfor yang di alam fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus.
Ketiga, siklus karbon dan oksigen, yang di atmosfer terdapat kandungan CO2 sebanyak 0.03%. Sumber-sumber CO2 di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Karbondioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara. Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbondioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 .

Upaya perlindungan dan penyelamatan harus segera digulirkan, demi keseimbangan alam dapat tercapai. Usaha yang dilakukan beragam mulai dari perencanaan sebuah kawasan konservasi berikut peraturan yang menjaminnya. Sebuah kawasan konservasi tersebut dapat berupa Kawasan Konservasi Terpadu, yang terdiri dari Ekosistem Mangrove, Lamun, Terumbu Karang, dan Fitoplankton yang mendiami wilayah tropis.
Berikut tabel analisis perbandingan dari Ekosistem Mangrove, Lamun, Terumbu Karang, dan Fitoplankton, pada tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1. Data perbandingan Ekosistem Mangrove, Lamun, Terumbu Karang, dan Fitoplankton
Parameter Hutan Mangrove Padang Lamun Terumbu Karang
Fitoplankton

*Potensi Daya Serap Karbon 67,7 juta ton/tahun
(L 93.000 km2) 50,3 juta ton/tahun (30.000 km2) 65,7 juta ton/tahun (61.000 km2) 36,1 juta ton/tahun
(L 5,8juta km2)
Cara Penyerapan Melalui fotosintesis Melalui foteosintesis Melalui fotosintesis, kalsifikasi Melalui fotosintesis
*Produktifitas 22,90 ton/hektar/tahun Belum diketahui Belum diketahui 50mgC/m2/tahun
Faktor Pembatas Kecerahan:Temperatur :Substrat: Berhubungan Pemanfaatan oleh masyarakat Suhu Kecerahan Temperatur Salinitas Substrat Kecepatan Arus Suhu
Temperature Salinitas Suhu
Cahaya, Nutrisi, Pencemaran
Nilai Estetika Menunjang demi pariwisata Menunjang demi pariwisata Menunjang demi pariwisata Tidak ada
Kekurangan Tidak ada Tidak ada Rentan terhadap suhu panas yang bisa menyebabkan bleching Menyebabkan red tide/blooming
*Sumber: Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007
Dari hasil analisa perbandingan pada tabel 1. didapat bahwa ekosistem padang lamun memiliki nilai rosot karbon yang lebih besar dibandingkan dengan ketiga ekosistem lainnya. Hal ini dibuktikan dengan analisis dalam kisaran luas relatif kecil tetapi memiliki potensi daya serap karbon yang cukup besar. Adapun dilihat dari parameter kekurangan, terumbu karang dan fitoplankton masing-masing memiliki kekurangan yaitu terumbu karang sangat rentan dengan suhu tinggi yang mengakibatkan bleaching, sedangkan pada fitoplankton apabila pertumbuhannya berlebihan akan menyebabkan red tide.
Adapun konsep yang dapat direkomendasikan dalam rangka mencapai sinergisme pemanfaatan ekosistem laut tersebut antara lain sebagai berikut :
Perencanaan
Perencanaan dilakukan melalui pendekatan Pengelolaan Kawasan Konservasi Terpadu (Integrated Conservation Zone Management) yang mengintegrasikan berbagai perencanaan, sehingga terjadi sinergisme antara empat elemen ekosiste. Konsep perencanaan kawasan konservasi terpadu merupakan upaya bertahap dan terprogram yang disertai dengan upaya pengendalian dampak implementatif yang mungkin timbul. Perencanaan Kawasan Konservasi Terpadu dibagi ke dalam empat tahapan utama yaitu ;
(i) rencana strategis
Rencana strategis lebih difokuskan kepada strategi pengelolaan wilayah pesisir yang difokuskan dalam pemanfaatan ruang, seperti identifikasi pengguna ruang dan kebutuhannya, penyusunan rencana tata ruang pesisir, penetapan sempadan pantai dan penanaman mangrove. pengendalian reklamasi pantai, pengetatan baku mutu limbah dan manajemen persampahan, penataan permukiman kumuh, dan perbaikan sistem drainase, dan penegakan hukum secara konsisten.
(ii) rencana zonasi
Rencana zonasi dititikberatkan pada adanya kawasan penyangga di kawasan konservasi terpadu seperti zonasi Jalur Hijau, Jalur Interaksi, dan Jalur Kawasan Budidaya. Fungsi jalur hijau adalah menyangga fisik kawasan dari gangguan luar. Fungsi jalur interaksi adalah menyangga kawasan konservasi dan jalur hijau dari perubahan ekosistem yang drastis, dan mendukung peningkatan sosial ekonomi masyarakat dan kelestarian kawasan konservasi terpadu tersebut. Pengelolaan jalur interaksi dilakukan dengan pengembangan agroforestry, dimanfaatkan secara terbatas dan vegetasi sekunder atau areal yang ditinggalkan masyarakat dibangun menjadi hutan rakyat atau hutan kemasyarakatan yang dapat mendukung konservasi tumbuhan yang benilai ekonomis dan ekologis. Fungsi kawasan budidaya daerah penyangga adalah untuk mendukung peningkatan sosial ekonomi masyarakat, pengembangan wilayah dan wisata.
(iii) rencana pengelolaan
Rencana pengelolaan dilakukan melalui Pengelolaan Kawasan Konservasi Terpadu (Integrated Conservation Zone Management) meliputi proses perencanaan, pemanfaatan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasan, dan pemberdayaan masyarakat, penentuan kewenangan, kelembagaan, sampai dengan tindakan pencegahan demi kelestarian ekossitem laut.
(iv) rencana aksi
Rencana aksi dilakukan dengan memetakan kawasan-kawasan konservasi laut, mengadakan survei mengenai kondisi kawasan konservasi laut, melaksanakan pelatihan berkala teknik pemantauan KKT (Kawasan Konservasi Terpadu). Program pelatihan dapat dilakukan oleh lembaga internasional dan lembaga lain yang memiliki kapasitas teknik yang sesuai, menyusun prosedur tetap atau standard operating procedure (SOP) agar dapat memenuhi unsur hukum, menyusun dan menyosialisasikan SOP tersebut kepada masyarakat, membuat protokol-protokol praktek pengelolaan terbaik (best management practices) untuk KKT, serta melaksanakan lokakarya dan penyusunan database status suatu kawasan konservasi laut.
Pengawasan dan Pengendalian
Secara umum upaya pengawasan dan pengendalian Kawasan Konservasi Terpadu (Integrated Conservation Zone) dilakukan dalam rangka :
1) Mengetahui adanya penyimpangan implementasi pelaksanaan rencana strategis, rencana zonasi, rencana pengelolaan, serta implikasi penyimpangan tersebut terhadap perubahan kualitas ekosistem.
2) Mendorong agar pola pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya di kawasan konservasi berjalan sinergis sesuai dengan rencana pengelolaannya.
3) Memberikan sanksi pelanggaran baik berupa sanksi administratif, sanksi perdata, maupun sanksi pidana berdasarkan hukum yang berlaku.
Daftar Pustaka
Boyd, P. W. 2000. A mesosscle phytoplankton bloom in the plar southhern ocean stimulated by iron Fertilization. Nature, 407:695-702.

Dahuri, R. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta.

Dittmar, T. et al. 2006. Mangroves, a major source of dissolved organic carbon to the oceans. Global Biogeochem. Cycles.20(1).
http://geo.ugm.ac.id/archives/100

Tentang Penulis

Abdul Malik Firdaus. Lahir di Garut-Jawa Barat, 6 Agustus. Aktif menulis sejak duduk di bangku SD, mulai dari menulis puisi hingga cerpen. Sejak SMA kegiatan menulis semakin focus ditekuni dengan ikut bergabungnya di FLP Bandung (Forum Lingkar Pena). Selepas SMA, diterima di Program Studi Ilmu Kelautan Unpad. Saat ini sedang tertarik dan mendalami peran ekosistem padang lamun dalam mengurangi pemanasan global.

About abmaf


One response to “Ekologi Laut Tropis Sebuah Kajian Awal Mengenal Karakteristik Laut Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: